HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN KEPERCAYAAN DIRI SISWA DI SEKOLAH

BBNEWS-Pendidikan mempunyai tugas dan fungsi utama membangun kemandirian manusia dan masyarakat serta bangsa. Dalam Undang-Undang RI Indonesia no 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk meningkatkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Berdasarkan tujuan pendidikan nasioanal tersebut, salah satu tujuan pendidikan nasional yang merupakan potensi yang harus dimiliki oleh peserta didik adalah kepercayaan diri. Karena kepercayaan diri merupakan modal untuk bisa cakap, kreatif, mandiri, dan berilmu. Dan faktor yang mempengaruhi kepercayaan diri siswa salah satunya adalah pola asuh orang tua.
Pola asuh adalah serangkaian sikap yang ditunjukkan oleh orang tua kepada anak untuk menciptakan iklim emosi yang melingkupi interaksi antara anak dan orang tuanya. Orang tuamemiliki peran penting dan strategis dalam menentukan kearah mana kepribadian anak akan dibentuk. Pola asuh orang tua dalam keluarga berarti kebiasaan orang tua, ayah, dan ibu dalam memimpin, mengasuh dan membimbing anak dalam keluarga. Mengasuh dalam arti menjaga dengan cara merawat dan mendidiknya. Membimbing dengan cara membantu, melatih dan sebagainya yang dilakukan baik ibu maupun ayah. Untuk dapat mendidik dan membina anak agar bisa tumbuh menjadi anak yang baik, maka orang tua harus bisa menjalankan peranan tersebut dengan memberikan pola pengasuhan yang tepat dan optimal sesuai tahap perkembangan anak.
Setiap orang tua pasti memiliki pola asuh yang berbeda- beda pada anak-anaknya yang mana pola asuh tersebut akan berpengaruh terhadap kepercayaan diri anak-anaknya. Kepercayaan diri sangat penting dan dibutuhkan oleh seseorang dalam situasi apapun terlebih bagi siswa dalam hal belajar di kelas, karena apabila seorang siswa tidak memiliki rasa percaya diri maka akan menghambat dirinya untuk mengembangkan kemampuan dalam dirinya.
Menurut Diana Baumrind macam-macam pola asuh orang tua dibagi menjadi 3, yaitu :
1. Pola Asuh Otoriter
Orang tua dengan tipe pola asuh ini biasanya cenderung membatasi dan menghukum. Mereka secara otoriter mendesak anak untuk mengikuti perintah dan menghormati mereka. Orang tua dengan pola ini sangat ketat dalam memberikan batasan dan kendali yang tegas terhadap anak-anak, serta komunikasi verbal yang terjadi pun secara satu arah. Orang tua tipe otoriter umumnya menilai anak sebagai objek yang harus dibentuk oleh orang tua yang merasa lebih tahu mana yang terbaik bagi anak-anaknya. Anak yang diasuh dengan otoriter terlihat kurang bahagia, ketakutan dalam melakukan sesuatu karena takut salah, minder, dam memiliki kemampuan komunikasi yang lemah. Contoh orang tua dengan pola asuh ini adalah seperti melarang anak laki-laki bermain dengan anak perempuan tanpa memberikan penjelasan ataupun alasannya.
2. Pola Asuh Demokratis
Orang tua dengan tipe pola asuh ini biasanya mendorong anak-anak untuk mandiri, namun orang tua tetap menempatkan batas-batas dan kendali atas tindakan mereka. Otang tua tipe ini juga mmeberikan kebebasan kepada anak-anak mereka untuk memilih dan melakukan suatu tindakan. Pada pola ini komunikasi antara orang tua dan anak terjadi secara dua arah. Anak yang diasuh dengan pola ini akan terlihat lebih dewasa, mandiri, ceria, dan mampu mengendalikan diri.
3. Pola Asuh Permisif
Orang tua dengan tipe pola asuh tidak pernah berperan dalam kehidupan anak. Anak diberikan kebebasan dalam melakukan tindakan apapun tanpa pengawasan dari orang tua. Orang tua tidak menegur atau memperingatkan. Anak yang diasuh dengan pola ini cenderung melakukan pelanggaran-pelanggaran karena mereka tidak mampu mengendalikan perilakunya, tidak dewasa, memiliki harga diri rendah dan terasingkan dari keluarga.
Sedangkan Kepercayaan diri Menurut Lauster merupakan suatu sikap atau yakin atas kemampuan diri sendiri sehingga dalam tindakan-tindakannya tidak terlalu cemas, merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang sesuai keinginan dan tanggung jawab atas perbuatannya, sopan dalam interaksi dengan orang lain, memiliki dorongan prestasi serta dapat mengenal kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Lauster menggambarkan bahwa orang yang mempunyai kepercayaan diri memiliki ciri-ciri tidak mementingkan diri sendiri, tidak membutuhkan dorongan orang lain, optimis, dan gembira. Kepercayaan diri pun merupakan faktor yang sangat penting bagi siswa karena dengan rasa percaya diri siswa akan mampu untuk mengembangkan potensi yang ada didirinya, mempunyai semangat dan dorongan motivasi dalam belajar serta mampu dan berani tampil didepan umum.

Sumber :
Kustiah Sunarty, Pola Asuh Orang Tua Dan Kemandirian Anak, 2015
Syaiful Bahri Djamarah, “Pola Asuh Orang Tua Dan Komunikasi Dalam Keluarga,” Jakarta: Rineka Cipta 112 (2014)
Saiful falah, Parents Power, ed. Muhamad iqbal Saputra, 1st ed. (Republika Penerbit, 2014).
Ayun Qurrotu, “Pola Asuh Orang Tua Dan Metode Pengasuhan Dalam Membentuk Kepribadia Anak,” 2017.
Nathania Longkutoy, Jehosua Sinolungan, and Henry Opod, “Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Kepercayaan Diri Siswa Smp Kristen Ranotongkor Kabupaten Minahasa,” Jurnal e-Biomedik 3, no. 1 (2015).

 

Sumber penulis Dede Nenah Mahasiswa Institut Ummul Quro Al Islami (IUQI) Jurusan Bimbingan Konseling Islami